Senin, 14 Mei 2012
Borobudur dibangun Nabi Sulaiman???
Sejak masih kecil kita sudah diajarkan tentang sejarah Candi Borobudur yang merupakan Candi Budha terbesar di Indonesia yang dibangun pada masa dinasti Syailendra. Lalu kenapa kok bisa dikatakan dibangun oleh Nabi Sulaiman?? Duluan mana Budha dengan Nabi Sulaiman??
“Budha sendiri lahir 500 SM, sedangkan Salomon (Nabi Sulaiman) 1000-900 SM.” So, duluan Nabi Sulaiman daripada Budha, berarti Borobudur dibangun Nabi Sulaiman??? Eitzz, berikut penjelasan dan alasannya:
Berdasarkan hasil riset Lembaga Studi Islam dan Kepurbakalaan yang dipimpin oleh KH. Fahmi Basya, dosen Matematika Islam UIN Syarif Hidayatullah, ternyata "CANDI BOROBUDUR" adalah bangunan yang dibangun oleh "TENTARA NABI SULAIMAN" termasuk didalamnya dari kalangan bangsa Jin dan Setan yang disebut dalam Alqur'an sebagai "ARSY RATU SABA". Sejatinya PRINCE OF SABA atau "RATU BALQIS" adalah "RATU BOKO" yang sangat terkenal dikalangan masyarakat Jawa, sementara patung-patung di Candi Borobudur yang selama ini dikenal sebagai patung Budha, sejatinya adalah patung model bidadara dalam sorga yang menjadikan Nabi Sulaiman sebagai model dan berambut keriting.
Hasil riset tersebut juga menyimpulkan bahwa "SUKU JAWA" disebut juga sebagai "BANI LUKMAN" karena menurut karakternya suku tersebut sesuai dengan ajaran-ajaran LUKMANUL HAKIM sebagaimana tertera dalam Alqur'an. Perlu diketahui bahwa satu-satunya nabi yang termaktub dalam Alqur'an, yang menggunakan nama depan SU hanya Nabi Sulaiman dan negeri yang beliau wariskan ternyata diperintah oleh keturunannya yang juga bernama depan SU yaitu Sukarno, Suharto, dan Susilo serta meninggalkan negeri bernama SLEMAN di Jawa Tengah. Nabi Sulaiman mewarisi kerajaan dari Nabi Daud (baca: ayahnya) yang dikatakan didalam Alqur'an dijadikan Khalifah di Bumi (menjadi Penguasa Dunia dengan Benua Atlantis sebagai Pusat Peradabannya), Nabi Daud juga dikatakan raja yang mampu menaklukkan besi (membuat senjata dan gamelan dengan tangan, beliau juga bersuara merdu) dan juga menaklukkan gunung hingga dikenal sebagai Raja Gunung. Di Nusantara ini yang dikenal sebagai Raja Gunung adalah "SYAILENDRA" , menurut Dr. Daoed Yoesoef nama Syailendra berasal dari kata saila dan indra, saila = gunung dan indra = raja.
Perhatikan bagan di link berikut (perbesar dan amatilah) : Bagan Cerita Borobudur
Negeri saba' yang dahulu di kuasai Ratu Bilqis, jaman Nabi Sulaiman mungkinkah Indonesia yang dimaksud ?? Didalam alquran ayat 18 surat SABA (34) kita disuruh untuk melakukan perjalanan ke Saba.
“Berjalanlah padanya beberapa malam dan siang dengan aman (QS.34 ayat 18)”
Ada yang mengatakan bahwa NEGERI SABA itu adalah INDONESIA dengan pusat pemerintahan di Jawa dan ARSY SABA yang dipindahkan atas perintah Nabi Sulaiman adalah Borobudur yang dipindahkan dari Ratu BOKO, yang selama ini orang mengira adalah di YAMAN.
Ada beberapa point yang menjadi bukti berdasarkan Alquran bahwa SABA itu adalah di pulau Jawa dan bukan di YAMAN.
Di ilmu sejarah kita Candi Borobudur didirikan pada abad ke 7 tapi menurut teori paruh waktu bahwa penelitian terhadap batu tersebut tidak bisa dihitung umurnya dengan Isotop C .
Sehingga bisa ditarik hipotesa bahwa Borobudur tidak dibuat pada abad ke 7.
Mengenai fenomena 19
Kita semua tidak memungkiri bahwa fenomena 19 di dalam Al-Quran itu berasal dari kalimat Bismillaahhirrahmaanirrahiim yang terdiri dari 19 huruf .Kalimat ”Bismillaahhirrahmaanirrahiim” ini yang memperkenalkannya kepada kita adalah Nabi Sulaiman. Ketika dia berkirim surat kepada Ratu Saba’
Kop Surat dari Surat Sulaiman itu adalah kalimat “Bismillaahhirrahmaanirrahiim”.
Isi suratnya adalah :”Allaa ta’luu ‘alaiyya, wa’tuunii muslimin” (Jangan menyombong kepada ku dan datanglah kepada ku dengan menyerah diri”.
Jadi, dapat dikatakan bahwa Fenomena 19 itu sudah diketahui oleh Nabi Sulaiman. Sebab itu di Borobudur ada Fenomena 19.
Karena yang membuat Borobudur itu bukan manusia saja, tetapi juga Jin, maka segaris lurusnya tiga candi Borobudur, Pawon dan Mendut, bukanlah hal yang kebetulan. Karena Jin bisa melihatnya dari atas.
Untuk apa mereka membuat ketiga candi itu (Candi Borobudur, Candi Pawon, Candi Mendut) segaris lurus ?
Jawabannya adalah untuk membuat gambar Gerhana. Dengan demikian mereka memberitakan bahwa Borobudur itu gambar Matahari, Pawon adalah gambar Bulan, dan Mendut adalah gambar Bumi. Itu diibaratkan Mendut mewakili manusia. Sebab di sana ada sebuah patung manusia sebagai wakil penduduk bumi, yaitu manusia.
Mengapa Borobudur itu gambar matahari ? karena si Ratu Saba’ itu dulunya kan menyembah matahari, jadi ‘Arsy dia itu ada nuansa mataharinya.
Mengapa candi-candi itu menggambarkan Mihrab-Mihrab?? Ya dikarenakan di dalam Al-Quran, jin-jin yang bekerja atas paksaan Sulaiman itu, mereka membuat mihrab-mihrab
“12.Dan untuk Sulaiman, angin bertiup pada pagi hari sebulan dan bertiup pada petang hari sebulan. Dan kami alirkan baginya mata air dari tembaga, dan kami mudahkan sebagian dari Jin bekerja di hadapannya dengan izin Tuhannya, dan siapa dari mereka berpaling dari perintah kami, niscaya kami rasakan baginya dari azab api yang bernyala.
13.Mereka kerjakan untuknya apa yang ia kehendaki dari Mihrab-Mihrab dan Patung-patung dan Piring-piring seperti Kolam-Kolam dan Kuali-Kuali yang tetap”
(Al-Quran, surat Saba’, ke 34 ayat 12-13)
Senin, 07 November 2011
We are Not Presioners
Coba dan bayangin, seandainya waktu nggak berjalan, seandainya jarum jam dinding nggak berputar, apa yang terjadi? Mungkin kamu membayangkan sesuatu yang seram, seperti kiamat. Atau mungkin kamu juga sulit membayangkan karena begitu banyak prediksi-prediksi yang melintas di otakmu. Atau mungkin juga kamu nggak membayangkannya sama sekali. Banyak kemungkinan atau jawaban yang terlontar. Tapi bagi Ari, jawabannya sederhana: “Kita tidak lagi perlu susah payah ngapalin pelajaran sejarah!”.
“Tanpa waktu, nggak ada yang namanya masa lalu, masa sekarang atau masa depan. Nggak ada lagi yang namanya kenangan, nggak ada pelajaran sejarah, antropologi, arkeologi, juga nggak ada lagi orang yang cemas mikirin masa depan. Yang jelas lagi, nggak ada pengangguran yang suka ngaku-ngaku tukang ramal.” Begitu pikirannya.
Ari memang suka berpikir nyeleneh, suka ngaduk-ngaduk pikiran orang dengan pertanyaan atau pernyataan yang aneh. Karena itu pula banyak teman-temannya memanggil Ari dengan nama ‘Ari bocor’.
Pernah waktu ulangan bahasa Indonesia, pada pertanyaan ‘apa makna dari kata kami dan kita?’ Ari menjawab: dua kata tersebut tidak memiliki makna apa-apa. Keduanya hanya kata-kata yang kosong tanpa makna. Tapi manusialah yang memberi makna pada kata-kata itu.
Terus waktu ulangan kimia, karena nggak bisa menjawab pertanyaan yang rumit itu, Air pun menulis: ‘Hanya tuhan yang tahu jawaban soal ini.’ Celakanya, ketika hasil ulangan itu diberikan, Ari mendapatkan pesan dari guru yang menulis persis dibawah jawabannya, bunyinya: Dan hanya tuhan yang tahu nilai kamu.
Kenakalan Ari memang sudah tersebar luas dilingkungan sekolah. Tidak hanya teman-temannya, bahkan para guru pun menilai Air murid yang aneh sekaligus super kritis. Misalnya waktu upacara bendera, Ari menolak mengikuti upacara tersebut. Akibatnya, Ari pun dijewer pak guru dan dibawa keruang BK (bimbingan konseling). Diruang itu, pak guru yang bijak itu bertanya, ”Kenapa kamu nggak mau mengikuti upacara bendera?”
Ari, sambil takut-takut, bertanya, “Bukan saya tidak ingin mengikuti upacara bendera itu, pak. Hanya saja, upacara yang dilakukan setiap hari senin kurang mendidik. Apakah yang berdiri tegak dan sebelah tangan menghormat kepada bendera, merupakan jaminan kesetiaan kita pada Negara?”
Untunglah pak guru adalah seorang yang bijak. Ari pun ‘DIBEBASKAN’.
Tapi itu belum seberapa. Ari pernah mengirimkan pesan di dinding dalam segmen DU-DU (dari untuk, dari untuk). Isinya, dari: Gugun, untuk: Kepala Sekolah, DU: WE ARE NOT PRESIONERS (kami bukan tahanan). Ari langsung ‘diciduk’ dari kelasnya untuk menghadap kepala sekolah.
“Apa maksud kamu menulis pesan tersebut di dinding?” bentak kepala sekolah sambil melotot.
Ari menunduk, jari-jarinya terasa bergetar.
“Kenapa diam? Kamu menulis itu bukan karena iseng, kan?”
“Bukan, pak.” Jawab Ari takut-takut.
“Lantas kenapa?”
“Hmmmm.” Ari mengangkat sedikit wajahnya. “Sebenarnya saya cuma tidak suka kalau bapak terlalu banyak memberikan peraturan disekolah ini. Sebelumnya bapak memberikan peraturan bahwa anak-anak harus memakai sepatu berwarna hitam, setelah itu kami juga dilarang memakai kaos kaki selain yang warnanya putih. Setelah itu, apa bapak akan memberi peraturan yang mengharuskan kami mengikat sepatu dengan cara seperti yang bapak tentukan?”
“Peraturan itu bapak ambil supaya kalian semua bisa rapih dan berdisiplin.” Tegas kepala sekolah.
“Tapi disiplin dalam tingkat tertentu justru membuat sekolah ini seperti militer. Dan bapak, kan tahu sendiri bahwa militer cenderung otoriter, saya rasa itu hanya akan mematikan kreativitas. Lalu dengan sepatu dan kaos kaki yang sama apakah membuktikan bahwa seseorang memiliki rasa disiplin yang tnggi? Lagi pula, bukankah dalam pancasila tertulis Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi satu juga, pak?”
Kepala sekolah pun berang. Ari disuruh berdiri dilapangan upacara hingga hari itu selesai. Sementara, kepala sekolah diam-diam tercekat pada alasan Ari tadi. Dan esok paginya tertera pengumuman yang ditulis dengan huruf-huruf besar: "Mulai hari ini siswa bebas memakai sepatu dan kaos kaki berwarna selain hitam dan putih".
Tapi, tau nggak kepala sekolah, meski kagum sama sikap Ari, beliau tetap menghukum Ari? Jawabannya: untuk menjaga wibawa kepala sekolah!
Senin, 31 Oktober 2011
Hujan
Ini kisah seekor anak katak dengan ibunya. Suatu hari dua hewan ini berada ditengah hutan. Tiba-tiba langit mendung dan gelap gulita. Lalu si anak katak berkata, “Ibu, kenapa langit tiba-tiba gelap ? Apakah akan ada sesuatu yang membahayakan ?” Tanya si anak sambil menggelayut di lengan ibunya. Tampak kalau iya benar-benar ketakutan.
“Tidak nak, ini bukan pertanda akan adanya bahaya. Tapi justru sebaliknya, itu pertanda baik.” Ujar ibunya berusaha menenangkan anaknya.
Namun, tidak beberapa lama kemudian. Angin bertiup kencang hingga ranting-ranting pohon yang ada disana berjatuhan, patah dan hancur. Daun-daun berterbangan dihempas angin. Kontan si anak katak kembali ketakutan, “Ibu, itu apalagi? kenapa ranting-ranting itu patah? Kenapa daun-daun itu berserakan ? Apakah ini yang ibu bilang pertanda baik. Ibu aku takut .... Apakah kita akan seperti ranting itu, hancur dan berserakan? “ Teriaknya sambil memeluk erat ibunya.
“Anakku sayang, itu cuma angin. Kamu tidak perlu takut. Sebab ada ibu disini,” Ucap si ibu menenangkan. “Nak, itu juga pertanda baik, sebab apa yang kita inginkan pasti akan segera datang. “ Ucapanya tidak sia-sia, anaknya pun kembali tenang. Kali ini ia mulai menikmati tiupan angin yang sempat membuatnya takut.
Lalu. “Blarrr.... Blarrrrr... “ Suara petir menggelegar. Kilatan cahaya putih dan percikan api dilangit sana makin membuat suasana begitu menakutkan. Kali ini si anak katak tidak bisa lagi menyembunyikan ketakutannya. Ia tak mampu berkata apa-apa. Yang dilakukannya kini tidak Cuma merangkul ibunya. Tetapi juga bersembunyi dibalik tambunnya tubuh sang ibu. Sambil gemetar menahan takut ia berkata, ”Ibu, aku takut sekali. Apakah kita akan binasa, apakah dunia akan kiamat Bu.... ?” Katanya sambil memejamkan mata dan memeluk ibunya.
“Jangan takut sayang, kamu harus sabar, nak.” Ucapanya sambil membelai anaknya. “itu Cuma petir. Dan petir adalah tanda terakhir bahwa apa yang kita harapkan. Akan segera terwujud ... Keluarlah nak. Kamu tidak perlu takut, lihatlah keluar sana, sambil bersyukur sebab sebentar lagi hujan akan turun. Ya, hujan, yang kita tunggu-tunggu tidak lama lagi akan membasahi bumi ini. “
Mendengar ucapan induknya, anak katak itupun pelan-pelan keluar dari peraduan. Diam-diam dia mendongakan kepalanya, melempar pandangan kesekitar. Ia mencoba memandangi langit yang makin mendung, menyimak angin yang masih bertiup dan sesekali menyaksikan kilat cahaya di atas sana. Lalu, benar saja hujan rintik-rintik mulai turun. Melihat air tumpah dari langit, iapun bersorak, “Ibu hujan turun, hujan datang, bu.... !!!!! Hore !” Teriaknya lantang sambil melompat-lompat. Sungguh sebuah ekspresi kebahagiaan yang amat sangat.
************************************************************************************************
Kisah dua ekor katak itu mengajarkan kita bahwa terkadang, anugerah atau impian yang kita harapkan baru akan terwujud setelah berbagai cobaan datang mengancam jiwa kita. Ia tidak datang diiringi dengan alunan musik yang merdu tapi justru suara-suara menakutkan. Dia tidak diantar oleh bidadari cantik nan rupawan, tapi justru diiringi oleh kegelapan dan ketakutan yang amat sangat. Itu artinya kebahagiaan yang kita reguk saat ini terwujud setelah banyak ujian mneghampiri, atau seperti yang ibu kartini bilang ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’.
Namun sayang, disaat ujian datang bertubi-tubi tidak sedikit manusia yang akhirnya kalah oleh keadaan dan hancur terbawa arus. Seperti halnya anak katak yang takut Cuma karena langit menghitam, angin bertiup kencang. Dan suara petir yang menggelegar. Padahal justru itulah tanda-tanda akan turun hujan. Semoga kita bisa menjadi seperti ibu si katak yang tetap tegar, menghadapi apapun yang terjadi dengan optimis, dan yakin bahwa dibalik ujian ada keberhasilan, dibalik cobaan akan ada kebahagiaan, dan bersama kekurangan akan ada kemudahan. Sebab kebahagiaan itu berjalan dengan kesedihan. Karena itu jangan takut melangkah dan jangan pernah lari dari kenyataan, tapi hadapi dengan kesabaran. Yakinlah bahwa dibalik kesukaran ada kemudahan, dibalik ujian ada keberhasilan dan dibalik cobaan ada kebahagiaan.
Rabu, 26 Oktober 2011
Airmata Untuk Adikku
Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.
Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya. "Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, "Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!" Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, "Ayah, aku yang melakukannya!"
Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? ... Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!"
Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, "Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi."
Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.
Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya memberengut, "Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik...hasil yang begitu baik..." Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, "Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?"
Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, "Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku." Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. "Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya?
Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!"
Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, "Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini." Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.
Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: "Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang."
Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.
Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga di universitas. Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, "Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!"
Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?"
Dia menjawab,tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu aku adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?"
Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, "Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu..."
Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, "Aku melihat semua gadis kota memakainya. Jadi Aku pikir kamu juga harus memiliki satu."
Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu,ia berusia 20. Aku 23.
Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku."Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!" Tetapi katanya, sambil tersenyum, "Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu.."
Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan membalut lukanya. "Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya.
"Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan..." Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.
Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini."
Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.
Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, aku menggerutu, "Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?"
Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. "Pikirkan kakak ipar, ia baru saja jadi direktur, dan aku hampir tidak berpendidikan. Jika aku menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?"
Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: "Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!"
"Mengapa membicarakan masa lalu?" Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.
Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?" Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, "Kakakku."
Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat.
"Ketika aku pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan aku berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Aku kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, aku bersumpah, selama aku masih hidup, aku akan menjaga kakakku dan baik kepadanya."
Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku.
( Judul asli : I Cried for My Brother Six Time )
Senin, 24 Oktober 2011
Kepada Putriku
Putriku tercinta! Aku seorang yang telah berusia hampir lima puluh tahun. Hilang sudah masa remaja, impian dan khayalan. Aku telah mengunjungi banyak negeri, dan berjumpa dengan banyak orang.
Aku juga telah merasakan pahit getirnya dunia. Oleh karena itu dengarlan nasehat-nasehatku yang benar lagi jelas, berdasarkan pengalaman-pengalamanku, dimana engkau belum pernah mendengarnya dari orang lain.
Kami telah menulis dan mengajak kepada perbaikan moral, menghapus kejahatan dan mengekang hawa nafsu, sampai pena tumpul, dan mulut letih, dan kami tidak mengahasilkan apa-apa. Kemungkaran tidak dapat kami berantas, bahkan semakin bertambah, kerusakan telah mewabah, para wanita keluar dengan pakaian merangsang, terbuka bagian lengan, betis dan lehernya.
Kami belum menemukan cara untuk memperbaiki, kami belum tahu jalannya. Sesungguhnya jalan kebaikan itu ada di depanmu, putriku! Kuncinya berada di tanganmu.
Benar bahwa lelakilah yang memulai langkah pertama dalam lorong dosa, tetapi bila engkau tidak setuju, laki-laki itu tidak akan berani, dan andaikata bukan lantaran lemah gemulaimu, laki-laki tidak akan bertambah parah. Engkaulah yang membuka pintu, kau katakan kepada si pencuri itu : silakan masuk … ketika ia telah mencuri, engkau berteriak : maling …! Tolong … tolong… saya kemalingan.
Demi Allah … dalam khayalan seorang pemuda tak melihat gadis kecuali gadis itu telah ia telanjangi pakaiannya.
Demi Allah … begitulah, jangan engkau percaya apa yang dikatakan laki-laki, bahwa ia tidak akan melihat gadis kecuali akhlak dan budi bahasanya. Ia akan berbicara kepadamu sebagai seorang sahabat.
Demi Allah … ia telah bohong! Senyuman yang diberikan pemuda kepadamu, kehalusan budi bahasa dan perhatian, semua itu tidak lain hanyalah merupakan perangkap rayuan ! setelah itu apa yang terjadi? Apa, wahai puteriku? Coba kau pikirkan!
Kalian berdua sesaat berada dalam kenikmatan, kemudian engkau ditinggalkan, dan engkau selamanya tetap akan merasakan penderitaan akibat kenikmatan itu. Pemuda tersebut akan mencari mangsa lain untuk diterkam kehormatannya, dan engakulah yang menanggung beban kehamilan dalam perutmu. Jiwamu menangis, keningmu tercoreng, selama hidupmu engkau akan tetap berkubang dalam kehinaan dan keaiban, masyarakat tidak akan mengampunimu selamanya.
Bila engkau bertemu dengan pemuda, kau palingkan muka, dan menghindarinya. Apabila pengganggumu berbuat lancang lewat perkataan atau tangan yang usil, kau lepaskan sepatu dari kakimu lalu kau lemparkan ke kepalanya, bila semua ini engkau lakukan, maka semua orang di jalan akan membelamu. Setelah itu anak-anak nakal itu takkan mengganggu gadis-gadis lagi. Apabila anak laki-laki itu menginginkan kebaikan maka ia akan mendatangi orang tuamu untuk melamar.
Cita-cita wanita tertinggi adalah perkawinan. Wanita, bagaimanapun juga status sosial, kekayaan, popularitas, dan prestasinya, sesuatu yang sangat didamba-dambakannya adalah menjadi isteri yang baik serta ibu rumah tangga yang terhormat.
Tak ada seorangpun yang mau menikahi pelacur, sekalipun ia lelaki hidung belang, apabila akan menikah tidak akan memilih wanita jalang (nakal), akan tetapi ia akan memilih wanita yang baik karena ia tidak rela bila ibu rumah tangga dan ibu putera-puterinya adalah seorang wanita amoral.
Sesungguhnya krisis perkawinan terjadi disebabkan kalian kaum wanita! Krisis perkawinan terjadi disebabkan perbuatan wanita-wanita asusila, sehingga para pemuda tidak membutuhkan isteri, akibatnya banyak para gadis berusia cukup untuk nikah tidak mendapatkan suami. Mengapa wanita-wanita yang baik belum juga sadar? Mengapa kalian tidak berusaha memberantas malapetaka ini? Kalianlah yang lebih patut dan lebih mampu daripada kaum laki-laki untuk melakukan usaha itu karena kalian telah mengerti bahasa wanita dan cara menyadarkan mereka, dan oleh karena yang menjadi korban kerusakan ini adalah kalian, para wanita mulia dan beragama.
Maka hendaklah kalian mengajak mereka agar bertakwa kepada Allah, bila mereka tidak mau bertaqwa, peringatkanlah mereka akan akibat yang buruk dari perzinaan seperti terjangkitnya suatu penyakit. Bila mereka masih membangkang maka beritahukan akan kenyataan yang ada, katakan kepada mereka : kalian adalah gadis-gadis remaja putri yang cantik, oleh karena itu banyak pemuda mendatangi kalian dan berebut di sekitar kalian, akan tetapi apakah keremajaan dan kecantikan itu akan kekal? Semua makhluk di dunia ini tidak ada yang kekal. Bagaimana kelanjutannya, bila kalian sudah menjadi nenek dengan punggung bungkuk dan wajah keriput? Saat itu, siapakah yang akan memperhatikan? Siapa yang akan simpati?
Tahukah kalian, siapakah yang memperhatikan, menghormati dan mencintai seorang nenek? Mereka adalah anak dan para cucunya, saat itulah nenek tersebut menjadi seorang ratu ditengah rakyatnya. Duduk di atas singgasana dengan memakai mahkota, tetapi bagaimana dengan nenek yang lain, yang masih belum bersuami itu? Apakah kelezatan itu sebanding dengan penderitaan di atas? Apakah akibat itu akan kita tukar dengan kelezatan sementara?
Dan berilah nasehat-nasehat yang serupa, saya yakin kalian tidak perlu petunjuk orang lain serta tidak kehabisan cara untuk menasehati saudari-saudari yang sesat dan patut di dikasihani. Bila kalian tidak dapat mengatasi mereka, berusahalah untuk menjaga wanita-wanita baik, gadis-gadis yang sedang tumbuh, agar mereka tidak menempuh jalan yang salah.
Saya tidak minta kalian untuk mengubah secara drastis mengembalikan wanita kini menjadi kepribadian muslimah yang benar, akan tetapi kembalilah ke jalan yang benar setapak demi setapak sebagaimana kalian menerima kerusakan sedikit demi sedikit.
Perbaikan tersebut tidak dapat diatasi hanya dalam waktu sehari atau dalam waktu singkat, malainkan dengan kembali ke jalan yang benar dari jalan yang semula kita lewati menuju kejelekan walaupun jalan itu sekarang telah jauh, tidak menjadi soal, orang yang tidak mau menempuh jalan panjang yang hanya satu-satunya ini, tidak akan pernah sampai. Kita mulai dengan memberantas pergaulan bebas, (kalaupun) seorang wanita membuka wajahnya tidak berarti ia boleh bergaul dengan laki-laki yang bukan mahramnya. Istri tanpa tutup wajah bukan berarti ia boleh menyambut kawan suami dirumahnya, atau menyalaminya bila bertemu di kereta, bertemu di jalan, atau seorang gadis menjabat tangan kawan pria di sekolah, berbincang-bincang, berjalan seiring, belajar bersama untuk ujian, dia lupa bahwa Allah menjadikannya sebagai wanita dan kawannya sebagai pria, satu dengan lain dapat saling terangsang. Baik wanita, pria, atau seluruh penduduk dunia tidak akan mampu mengubah ciptaan Allah, menyamakan dua jenis atau menghapus rangsangan seks dari dalam jiwa mereka.
Mereka yang menggembor-gemborkan emansipasi dan pergaulan bebas atas kemajuan adalah pembohong dilihat dari dua sebab :
Pertama : karena itu semua mereka lakukan untuk kepuasan pada diri mereka, memberikan kenikmatan-kenikmatan melihat angota badan yang terbuka dan kenikmatan-kenikmatan lain yang mereka bayangkan. Akan tetapi mereka tidak berani berterus terang, oleh karena itu mereka bertopeng dengan kalimat yang mengagumkan yang sama sekali tidak ada artinya, kemajuan, modernisasi, kehidupan kampus, dan ungkapan-ungkapan yang lain yang kosong tanpa makna bagaikan gendang.
Kedua : mereka bohong oleh karena mereka bermakmum pada Eropa, menjadikan eropa bagaikan kiblat, dan mereka tidak dapat memahami kebenaran kecuali apa-apa yang datang dari sana, dari Paris, London, Berlin dan New york. Sekalipun berupa dansa, porno, pergaulan bebas di sekolah, buka aurat di lapangan dan telanjang di pantai (atau di kolam renang). Kebatilan menurut mereka adalah segala sesuatu yang datangnya dari timur, sekolah-sekolah Islam dan masjid-masjid, walapun berupa kehormatan, kemuliaan,, kesucian dan petunjuk. Kata mereka, pergaulan bebas itu dapat mengurangi nafsu birahi, mendidik watak dan dapat menekan libido seksual, untuk menjawab ini saya limpahkan pada mereka yang telah mencoba pergaulan bebas di sekolah-sekolah, seperti Rusia yang tidak beragama, tidak pernah mendengar para ulama dan pendeta. Bukankah mereka telah meninggalkan percobaan ini setelah melihat bahwa hal ini amat merusak?
Saya tidak berbicara dengan para pemuda, saya tidak ingin mereka mendengar, saya tahu, mungkin mereka menyanggah dan mencemoohkan saya karena saya telah menghalangi mereka untuk memperoleh kenikmatan dan kelezatan, akan tetapi saya berbicara kepada kalian, putri-putriku, wahai putriku yang beriman dan beragama! Putriku yang terhormat dan terpelihara ketahuilah bahwa yang menjadi korban semua ini bukan orang lain kecuali engkau.
Oleh karena itu jangan berikan diri kalian sebagai korban iblis, jangan dengarkan ucapan mereka yang merayumu dengan pergaulan yang alasannya, hak asasi, modernisme, emansipasi dan kehidupan kampus. Sungguh kebanyakan orang yang terkutuk ini tidak beristri dan tidak memiliki anak, mereka sama sekali tidak peduli dengan kalian selain untuk pemuas kelezatan sementara. Sedangkan saya adalah seorang ayah dari empat gadis. Bila saya membela kalian, berarti saya membela putri-putriku sendiri. Saya ingin kalian bahagia seperti yang saya inginkan untuk putri-putriku.
Sesungguhnya tidak ada yang mereka inginkan salain memperkosa kehormatan wanita, kemuliaan yang tercela tidak akan bisa kembali, begitu juga martabat yang hilang tidak akan dapat diketemukan kembali.
Bila anak putri jatuh, tak seorangpun di antara mereka mau menyingsingkan lengan untuk membangunkannya dari lembah kehinaan, yang engkau dapati mereka hanya memperebutkan kecantikan si gadis, apabila telah berubah dan hilang, mereka pun lalu pergi menelantarkan, persisnya seperti anjing meninggalkan bangkai yang tidak tersisa daging sedikitpun.
Inilah nasehatku padamu, putriku. Inilah kebenaran. Selain ini jangan percaya. Sadarlah bahwa di tanganmulah, bukan di tangan kami kaum laki-laki, kunci pintu perbaikan. Bila mau perbaikilah diri kalian, dengan demikian umat pun kan menjadi baik.
( Kepada Putra-Putriku, Karya Ali Ath Thonthowi. Judul Asli : يا بنتي ويا ابني )
Langganan:
Postingan (Atom)





