Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 November 2011

We are Not Presioners

Coba dan bayangin, seandainya waktu nggak berjalan, seandainya jarum jam dinding nggak berputar, apa yang terjadi? Mungkin kamu membayangkan sesuatu yang seram, seperti kiamat. Atau mungkin kamu juga sulit membayangkan karena begitu banyak prediksi-prediksi yang melintas di otakmu. Atau mungkin juga kamu nggak membayangkannya sama sekali. Banyak kemungkinan atau jawaban yang terlontar. Tapi bagi Ari, jawabannya sederhana: “Kita tidak lagi perlu susah payah ngapalin pelajaran sejarah!”. “Tanpa waktu, nggak ada yang namanya masa lalu, masa sekarang atau masa depan. Nggak ada lagi yang namanya kenangan, nggak ada pelajaran sejarah, antropologi, arkeologi, juga nggak ada lagi orang yang cemas mikirin masa depan. Yang jelas lagi, nggak ada pengangguran yang suka ngaku-ngaku tukang ramal.” Begitu pikirannya. Ari memang suka berpikir nyeleneh, suka ngaduk-ngaduk pikiran orang dengan pertanyaan atau pernyataan yang aneh. Karena itu pula banyak teman-temannya memanggil Ari dengan nama ‘Ari bocor’. Pernah waktu ulangan bahasa Indonesia, pada pertanyaan ‘apa makna dari kata kami dan kita?’ Ari menjawab: dua kata tersebut tidak memiliki makna apa-apa. Keduanya hanya kata-kata yang kosong tanpa makna. Tapi manusialah yang memberi makna pada kata-kata itu. Terus waktu ulangan kimia, karena nggak bisa menjawab pertanyaan yang rumit itu, Air pun menulis: ‘Hanya tuhan yang tahu jawaban soal ini.’ Celakanya, ketika hasil ulangan itu diberikan, Ari mendapatkan pesan dari guru yang menulis persis dibawah jawabannya, bunyinya: Dan hanya tuhan yang tahu nilai kamu. Kenakalan Ari memang sudah tersebar luas dilingkungan sekolah. Tidak hanya teman-temannya, bahkan para guru pun menilai Air murid yang aneh sekaligus super kritis. Misalnya waktu upacara bendera, Ari menolak mengikuti upacara tersebut. Akibatnya, Ari pun dijewer pak guru dan dibawa keruang BK (bimbingan konseling). Diruang itu, pak guru yang bijak itu bertanya, ”Kenapa kamu nggak mau mengikuti upacara bendera?” Ari, sambil takut-takut, bertanya, “Bukan saya tidak ingin mengikuti upacara bendera itu, pak. Hanya saja, upacara yang dilakukan setiap hari senin kurang mendidik. Apakah yang berdiri tegak dan sebelah tangan menghormat kepada bendera, merupakan jaminan kesetiaan kita pada Negara?” Untunglah pak guru adalah seorang yang bijak. Ari pun ‘DIBEBASKAN’. Tapi itu belum seberapa. Ari pernah mengirimkan pesan di dinding dalam segmen DU-DU (dari untuk, dari untuk). Isinya, dari: Gugun, untuk: Kepala Sekolah, DU: WE ARE NOT PRESIONERS (kami bukan tahanan). Ari langsung ‘diciduk’ dari kelasnya untuk menghadap kepala sekolah. “Apa maksud kamu menulis pesan tersebut di dinding?” bentak kepala sekolah sambil melotot. Ari menunduk, jari-jarinya terasa bergetar. “Kenapa diam? Kamu menulis itu bukan karena iseng, kan?” “Bukan, pak.” Jawab Ari takut-takut. “Lantas kenapa?” “Hmmmm.” Ari mengangkat sedikit wajahnya. “Sebenarnya saya cuma tidak suka kalau bapak terlalu banyak memberikan peraturan disekolah ini. Sebelumnya bapak memberikan peraturan bahwa anak-anak harus memakai sepatu berwarna hitam, setelah itu kami juga dilarang memakai kaos kaki selain yang warnanya putih. Setelah itu, apa bapak akan memberi peraturan yang mengharuskan kami mengikat sepatu dengan cara seperti yang bapak tentukan?” “Peraturan itu bapak ambil supaya kalian semua bisa rapih dan berdisiplin.” Tegas kepala sekolah. “Tapi disiplin dalam tingkat tertentu justru membuat sekolah ini seperti militer. Dan bapak, kan tahu sendiri bahwa militer cenderung otoriter, saya rasa itu hanya akan mematikan kreativitas. Lalu dengan sepatu dan kaos kaki yang sama apakah membuktikan bahwa seseorang memiliki rasa disiplin yang tnggi? Lagi pula, bukankah dalam pancasila tertulis Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi satu juga, pak?” Kepala sekolah pun berang. Ari disuruh berdiri dilapangan upacara hingga hari itu selesai. Sementara, kepala sekolah diam-diam tercekat pada alasan Ari tadi. Dan esok paginya tertera pengumuman yang ditulis dengan huruf-huruf besar: "Mulai hari ini siswa bebas memakai sepatu dan kaos kaki berwarna selain hitam dan putih". Tapi, tau nggak kepala sekolah, meski kagum sama sikap Ari, beliau tetap menghukum Ari? Jawabannya: untuk menjaga wibawa kepala sekolah!

Senin, 31 Oktober 2011

Hujan

Ini kisah seekor anak katak dengan ibunya. Suatu hari dua hewan ini berada ditengah hutan. Tiba-tiba langit mendung dan gelap gulita. Lalu si anak katak berkata, “Ibu, kenapa langit tiba-tiba gelap ? Apakah akan ada sesuatu yang membahayakan ?” Tanya si anak sambil menggelayut di lengan ibunya. Tampak kalau iya benar-benar ketakutan. “Tidak nak, ini bukan pertanda akan adanya bahaya. Tapi justru sebaliknya, itu pertanda baik.” Ujar ibunya berusaha menenangkan anaknya. Namun, tidak beberapa lama kemudian. Angin bertiup kencang hingga ranting-ranting pohon yang ada disana berjatuhan, patah dan hancur. Daun-daun berterbangan dihempas angin. Kontan si anak katak kembali ketakutan, “Ibu, itu apalagi? kenapa ranting-ranting itu patah? Kenapa daun-daun itu berserakan ? Apakah ini yang ibu bilang pertanda baik. Ibu aku takut .... Apakah kita akan seperti ranting itu, hancur dan berserakan? “ Teriaknya sambil memeluk erat ibunya. “Anakku sayang, itu cuma angin. Kamu tidak perlu takut. Sebab ada ibu disini,” Ucap si ibu menenangkan. “Nak, itu juga pertanda baik, sebab apa yang kita inginkan pasti akan segera datang. “ Ucapanya tidak sia-sia, anaknya pun kembali tenang. Kali ini ia mulai menikmati tiupan angin yang sempat membuatnya takut. Lalu. “Blarrr.... Blarrrrr... “ Suara petir menggelegar. Kilatan cahaya putih dan percikan api dilangit sana makin membuat suasana begitu menakutkan. Kali ini si anak katak tidak bisa lagi menyembunyikan ketakutannya. Ia tak mampu berkata apa-apa. Yang dilakukannya kini tidak Cuma merangkul ibunya. Tetapi juga bersembunyi dibalik tambunnya tubuh sang ibu. Sambil gemetar menahan takut ia berkata, ”Ibu, aku takut sekali. Apakah kita akan binasa, apakah dunia akan kiamat Bu.... ?” Katanya sambil memejamkan mata dan memeluk ibunya. “Jangan takut sayang, kamu harus sabar, nak.” Ucapanya sambil membelai anaknya. “itu Cuma petir. Dan petir adalah tanda terakhir bahwa apa yang kita harapkan. Akan segera terwujud ... Keluarlah nak. Kamu tidak perlu takut, lihatlah keluar sana, sambil bersyukur sebab sebentar lagi hujan akan turun. Ya, hujan, yang kita tunggu-tunggu tidak lama lagi akan membasahi bumi ini. “ Mendengar ucapan induknya, anak katak itupun pelan-pelan keluar dari peraduan. Diam-diam dia mendongakan kepalanya, melempar pandangan kesekitar. Ia mencoba memandangi langit yang makin mendung, menyimak angin yang masih bertiup dan sesekali menyaksikan kilat cahaya di atas sana. Lalu, benar saja hujan rintik-rintik mulai turun. Melihat air tumpah dari langit, iapun bersorak, “Ibu hujan turun, hujan datang, bu.... !!!!! Hore !” Teriaknya lantang sambil melompat-lompat. Sungguh sebuah ekspresi kebahagiaan yang amat sangat. ************************************************************************************************ Kisah dua ekor katak itu mengajarkan kita bahwa terkadang, anugerah atau impian yang kita harapkan baru akan terwujud setelah berbagai cobaan datang mengancam jiwa kita. Ia tidak datang diiringi dengan alunan musik yang merdu tapi justru suara-suara menakutkan. Dia tidak diantar oleh bidadari cantik nan rupawan, tapi justru diiringi oleh kegelapan dan ketakutan yang amat sangat. Itu artinya kebahagiaan yang kita reguk saat ini terwujud setelah banyak ujian mneghampiri, atau seperti yang ibu kartini bilang ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’. Namun sayang, disaat ujian datang bertubi-tubi tidak sedikit manusia yang akhirnya kalah oleh keadaan dan hancur terbawa arus. Seperti halnya anak katak yang takut Cuma karena langit menghitam, angin bertiup kencang. Dan suara petir yang menggelegar. Padahal justru itulah tanda-tanda akan turun hujan. Semoga kita bisa menjadi seperti ibu si katak yang tetap tegar, menghadapi apapun yang terjadi dengan optimis, dan yakin bahwa dibalik ujian ada keberhasilan, dibalik cobaan akan ada kebahagiaan, dan bersama kekurangan akan ada kemudahan. Sebab kebahagiaan itu berjalan dengan kesedihan. Karena itu jangan takut melangkah dan jangan pernah lari dari kenyataan, tapi hadapi dengan kesabaran. Yakinlah bahwa dibalik kesukaran ada kemudahan, dibalik ujian ada keberhasilan dan dibalik cobaan ada kebahagiaan.

Rabu, 26 Oktober 2011

Airmata Untuk Adikku

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku. Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya. "Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, "Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!" Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, "Ayah, aku yang melakukannya!" Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? ... Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!" Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, "Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi." Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11. Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya memberengut, "Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik...hasil yang begitu baik..." Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, "Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?" Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, "Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku." Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. "Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!" Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, "Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini." Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas. Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: "Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang." Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20. Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga di universitas. Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, "Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!" Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?" Dia menjawab,tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu aku adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?" Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, "Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu..." Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, "Aku melihat semua gadis kota memakainya. Jadi Aku pikir kamu juga harus memiliki satu." Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu,ia berusia 20. Aku 23. Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku."Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!" Tetapi katanya, sambil tersenyum, "Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu.." Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan membalut lukanya. "Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya. "Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan..." Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26. Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini." Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi. Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, aku menggerutu, "Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?" Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. "Pikirkan kakak ipar, ia baru saja jadi direktur, dan aku hampir tidak berpendidikan. Jika aku menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?" Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: "Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!" "Mengapa membicarakan masa lalu?" Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29. Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?" Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, "Kakakku." Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. "Ketika aku pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan aku berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Aku kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, aku bersumpah, selama aku masih hidup, aku akan menjaga kakakku dan baik kepadanya." Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. ( Judul asli : I Cried for My Brother Six Time )

Senin, 24 Oktober 2011

Ayah, Kembalikan Tangan Dita

Sepasang suami isteri – seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur. Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya. Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan , tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya... karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya. Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah. Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, "Kerjaan siapa ini !!!" .... Pembantu rumah yang tersentak engan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah adam ketakutan lebih-lebih melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ' Saya tidak tahu..tuan." "Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?" hardik si isteri lagi. Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata "Dita yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik ...kan!" katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa.. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali-kali ke telapak tangan anaknya . Si anak yang tak mengerti apa apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya. Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tidak tahu harus berbuat apa... Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar. Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka-luka dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka-lukanya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. "Oleskan obat saja!" jawab bapak si anak. Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. "Dita demam, Bu"...jawab pembantunya ringkas. "Kasih minum panadol aja ," jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya. Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. "Sore nanti kita bawa ke klinik.. Pukul 5.00 sudah siap" kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya susah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. "Tidak ada pilihan.." kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut..."Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah" kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi. Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. "Ayah.. ibu... Dita tidak akan melakukannya lagi.... Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi... Dita sayang ayah..sayang ibu.", katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. "Dita juga sayang Mbok Narti.." katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris. "Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti ?... Bagaimana Dita mau bermain nanti ?... Dita janji tidak akan mencoret-coret mobil lagi, " katanya berulang-ulang. Serasa hancur hati si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung-raung dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf...Tahun demi tahun kedua orang tua tersebut menahan kepedihan dan kehancuran bathin sampai suatu saat Sang Ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya yg tak bertepi..., Namun...., si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tersebut tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya..?

Rabu, 14 September 2011

Ketika Ia Pergi

Seno, bocah kecil itu mungkin salah satu dari sekian anak yang menjadi korban emansipasi. Bagaimana tidak, mamanya seorang wanita karir dengan setumpuk kegiatan. Dan papanya seorang pengusaha yang lumayan sukses. Praktis mereka hanya bisa menyisakan (bukan memberikan) waktu untuk seno dihari libur. Itupun kalau memungkinkan… Meski begitu Seno yang baru berusia 4 tahun itu seolah mengerti. Ia tidak banyak menunutut, ia lebih asyik bermain dengan Mbok Yem dan mobil-mobilannya. Baginya ada atau tidak kedua orangtuanya tak ada bedanya. “Seno, mama dan Papa sedang sibuk. Kamu mengerti kan sayang?” Seno mengangguk. “Mama tinggal dulu ya sayang, nanti kalau pulang mama bawakan mainan baru lagi, ya? Seno kembali mengangguk. Setelah itu mamanya berangkat. Dari pagi ke pagi Seno selalu menatap kepergian mamanya tanpa ekspresi. Sebelumnya Mbok Yem pernah memberanikan diri bertanya pada mamanya “Nyonya apakah Seno tidak terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal?” Dengan sigap mamanya berkata “Tenang saja Mbok, saya sudah mengantisipasi segala sesuatunya. Everything is OK! Si Mbok merawat Seno dengan benar seperti yang saya inginkan, kan?” Mbok Yem mengangguk. ”Tapi Nyonya….” “Sudahlah Mbok, saya tahu yang terbaik unruk Seno. Si Mbok lakukan saja tugas si Mbok merawat Seno dan saya akan sangat berterimakasih kepada si Mbok.” “Baik Nyonya.” Jawab Mbok Yem ketika itu. Dan Seno-pun tumbuh dibawah kasih saying Mbok Yem. A menjadi anak yang lincah, cerdas dan mudah di ajak untuk mengerti. Ia jarang sekali ngambek, karena Mbok Yem, wanita setengah baya dari desa itu, telah menanamkan pengertian padanya. Namun pagi-pagi ini Seno tiba-tiba menangis. Ia tidak ingin dimandikan oleh Mbok Yem seperti biasanya. “Seno ingin dimandikan mama…”rengeknya dikamar mandi. Tentu saja, mamnya yang sangat sibuk, menolaknya secara halus. “Seno mama akan berangkat kekantor sekarang. Waktunya sudah sangat mendesak, belum lagi kalu nanti terjebak macet. Seno ngerti, kan?” ujar mamanya sambil memepersiapkan alat-alat kantornya. “Seno ingin dimandikan mama…” rengeknya lagi. Kali ini ayahnya turut membujuk, “Kamu tidak boleh begitu sayang. Mama sangat sibuk Tapi nanti kalo mama libur, pasti mama mau memandikan kamu seharian penuh. Bahkan kalau perlu mama juga pasti ga keberatan mengantarkan kamu ke kolam renang, betulkan Mam?” “Benar sayang, mama janji…” sahut mamanya sambil mengangguk. “tapi Seno ingin dimandikan mama…” Seno tak juga mengerti. “Seno, please ngertiin dong sayang. Mama pasti akan memandikanmu, tapi tidak hari ini, ya! Ujar mamnya membujuk. Kali ini sambil mengusap airmata Seno. “nah sekarang mama dan papa berangkatr ke kantor dulu ya.” Seno tak lagi menangis, ia menatap kepergian kedua orangtuanya dengan airmata yang tersisa. Pagi-pagi berikutnya kejadian itu terus berulang. Permintaan Seno untuk dimandikan mamanya kian hari kian terasa seperti tuntutan. Dan mamanya hanya bisa menghela nafas ketika suaminya berkata, “Tak perlu kau pusingkan mam. Anak kita masih terlalu kecil untuk diajak mengerti. Tapi lambat laun ia akan mengerti dengan sendirinya.” “Entah Pa, aku cuma tak tahan melihat air matanya. Sebagai seeorang ibu, aku merasa telah meninggalkannya terlalu jauh. Aku takut anak kita tak pernah bisa benar-benar memahami makna ibu.” “So, apa mama akan melepaskan pekerjaan dan kegiatan mama selama ini?” “Tentu saja tidak, Pa. Aku memulainya dari titik nol, dan teramat mahal jika aku harus melepaskannya begitu saja. Aku juga berfikir lambat laun Seno pasti akan mengerti apa yang kita lakukan ini semata-mata hanya untuknya. “ Begitulah, Mama dan Papanya kembali sibuk. Namun rengekan Seno yang minta dimandikan tak juga berhenti. Ia masih merengek setiap pagi, selama hamper seminggu. Sehingga suau siang Mamanya dikejutkan oleh dering handphone disakunya. “Nyonya….,” suara mbok Yem terdengar berat dan serak. “Ada apa mbok?” “Gawat nyonya……... gawat…” “tenang mbok…. Tenang. Ambil nafas dulu setelah itu katakan dengan jelas.” Terdengar mbok Yem menarik nafas, setelah itu suaranya kembali terdengar. “Gawat nyonya, Seno sakit, ulutnya berbusa dan sekarang saya sedang menungguinya diruang emergency rumah sakit.” “Apa !” Mamanya segera meluncur kerumah sakit. Utnunglah jalanan tidak terlalu macet. Sesampainy dirumah sakit ia segera menaiki anak tangga menuju ruang UGD. Tapui segalanya sudah terlambat, ia mendapati mbok Yem sedang menangis. “Dimana Seno Mbok?” “Nyonya….., “ sambil sesegukkan mbok Yem berlari memeluknya. “Mbok Yem dimana Seno…? Ujar mamanya merasa tak enak. Terdengar suara pintu terbuka dan seorang dokter keluar. “Nyonya Meri?” ujar dokter tersebut. “ya, saya” sahut mamanya. “Maafkan kami nyonya, segealnya begitu cepat terjadi. Dan tampaknya Tuhan telah memiliki rencana lain untuk anak nyonya.” Wanita karir itu tersungkur , seluruh persendiannya terasa hancur. Dan ia tak lagi bisa menahan tangis. “Seno…” ujarnya disamping tubuh mungil yang mulai kaku. “Ini mama sayang…., Mama akan memandikanmu sekarang…” ujarnya lagi sambil menahan airmata dihadapan para pelayat yang sunyi dirumahnya. Sementara papanya, hanya mematung memandang tubuh Seno dengan pandangan kosong. Dan Mbok Yem tak henti-henti melantunkan ayat suci, dengan bibir yang bergetar dan hati yang menyembunyikan tangis. “Tuhan, jika ada hikmah dalam setiap kejadian, kenapa hikmah itu harus aku bayar dengan sangat mahal? Seno, maafkan mama……” lirih mamahnya diatas tanah yang masih merah. Sementara langit mulai senja dan para pelayat mulai melangkah. Sementara sang ayah hanya mematung, menatap daun-daun kamboja yang berjatuhan. “Segala sesuatu memang harus pergi…” desisnya parau.